Tuesday, February 24, 2009

Diubahkan Lewat Persoalan

Allah memiliki suatu tujuan di balik segala masalah.

Dia menggunakan keadaan-keadaan untuk mengembangkan karakter kita. Bahkan sebetulnya, Dia lebih bergantung pada keadaan untuk menjadikan kita serupa dengan Yesus ketimbang pada kegiatan kita membaca Alkitab. Alasannya jelas: Anda menghadapi berbagai keadaan 24 jam sehari.

Yesus memperingatkan kita bahwa kita akan menghadapi aneka masalah di dunia (Yohanes 16:33). Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap penderitaan atau terlindungi dari penderitaan, dan tidak seorang pun yang akan menjalani kehidupan ini tanpa masalah. Setiap kali Anda berhasil memecahkan satu masalah, masalah lain sudah menanti untuk muncul. Tidak semua masalah itu besar, tetapi semuanya berperan penting dalam proses pertumbuhan yang disiapkan Allah bagi Anda. Petrus meyakinkan kita bahwa masalah-masalah itu normal, dengan mengatakan,

“Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” (1Petrus 4:12)

Allah memakai masalah-masalah untuk menarik Anda lebih dekat kepada Diri-Nya. Alkitab mengatakan, “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:18)

Pengalaman-pengalaman penyembahan Anda yang paling hebat dan mendalam mungkin terjadi ketika Anda tengah mengalami masa-masa tergelap dalam hidup Anda — ketika Anda patah hati, merasa ditinggalkan, tidak dipilih, atau ketika mengalami penderitaan badani yang luar biasa — dan Anda datang kepada Allah sendiri. Selama dalam penderitaan itulah kita belajar untuk menaikkan doa-doa kita yang paling murni, sepenuh hati, dan jujur kepada Allah. Ketika kita berada di dalam penderitaan, kita tidak lagi memiliki tenaga untuk menaikkan doa-doa yang dangkal.

Joni Eareckson Tada menulis, “Ketika hidup terasa menyenangkan, kita mungkin menikmatinya dengan kerinduan untuk mengetahui tentang Yesus, dengan meniru Dia dan mengutip perkataan-Nya serta membicarakan-Nya. Tetapi hanya dalam penderitaanlah kita akan benar- benar mengenal Yesus.” Kita mempelajari berbagai hal tentang Allah di dalam penderitaan karena hal itu tidak bisa kita pelajari dengan cara lain.

Allah tentu bisa saja mencegah agar Yusuf tidak masuk penjara (Kejadian 39:20-22), agar Daniel tidak dimasukkan dalam gua singa (Daniel 6:16-23), agar Yeremia tidak dimasukkan ke dalam perigi (Yeremia 38:6), agar Paulus tidak mengalami karam kapal tiga kali (2Korintus 11:25) dan mencegah tiga pemuda Ibrani agar tidak dibuang dalam perapian yang menyala-nyala (Daniel 3:1-26) tetapi Allah tidak melakukannya. Allah mengizinkan masalah-masalah tersebut terjadi, dan sebagai hasilnya setiap orang tersebut ditarik lebih dekat kepada Allah.

Masalah-masalah mendorong kita untuk memandang kepada Allah dan bergantung pada-Nya dan bukan pada diri kita sendiri. Paulus memberikan kesaksian tentang hal ini:

“Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” (2Korintus 1:9)

Anda tidak akan pernah menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya yang Anda butuhkan sebelum Anda merasakan Allah sebagai satu-satunya yang Anda miliki.

Apapun penyebabnya, tidak ada satu pun masalah yang bisa terjadi tanpa izin Allah. Segala sesuatu yang terjadi atas seorang anak Allah sudah disaring oleh Bapa, dan Dia bermaksud menggunakannya untuk kebaikan meskipun Iblis dan yang lain memaksudkannya untuk keburukan.

Karena Allah adalah pemegang kendali tertinggi, kecelakaan- kecelakaan hanyalah insiden-insiden dalam rencana kebaikan dari Allah bagi Anda. Karena setiap hari dari kehidupan Anda sudah tertulis pada penanggalan Allah sebelum Anda dilahirkan (Mazmur 139:16) maka “segala sesuatu” yang terjadi pada Anda memiliki manfaat rohani. Segala sesuatu! Roma 8:28-29 menjelaskan alasannya:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.”

MENANGGAPI MASALAH-MASALAH SEPERTI YESUS MENANGGAPINYA

Masalah-masalah tidak secara otomatis menghasilkan apa yang Allah maksudkan. Banyak orang menjadi kecewa, dan bukannya menjadi lebih baik, serta menjadi tidak pernah bertumbuh. Anda harus menanggapi seperti cara Yesus menanggapi.

1.      Ingatlah bahwa rencana Allah itu baik
Allah mengetahui apa yang terbaik bagi Anda dan Ia memperhatikan kepentingan Anda. Allah memberitahu Yeremia,

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)

Yusuf memahami kebenaran ini pada saat dia memberitahu saudara- saudaranya yang telah menjualnya dalam perbudakan,

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan,” (Kejadian 50:20)

Hizkia menyuarakan perasaan yang sama tentang penyakit yang mengancam nyawanya:

“Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku;” (Yesaya 38:17)

Kapanpun Allah mengatakan “tidak” terhadap permohonan Anda akan keringanan, ingatlah,

“… Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” (Ibrani 12:10b)

Penting bahwa Anda tetap berfokus pada rencana Allah, bukan pada penderitaan atau masalah Anda. Inilah cara Yesus menanggung penderitaan salib, dan kita didorong untuk mengikuti teladan-Nya:

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia,” (Ibrani 12:2a)

Corrie ten Boom, yang menderita di dalam sebuah kamp maut Nazi, menjelaskan tentang kuasa dari fokus yang dimiliki seseorang: “Jika Anda memandang kepada dunia, Anda akan menderita. Jika Anda memandang diri sendiri, Anda akan tertekan. Namun jika Anda memandang Kristus, Anda akan tenang!” Fokus Anda akan menentukan perasaan-perasaan Anda. Rahasia ketekunan ialah mengingat bahwa penderitaan Anda bersifat sementara, tetapi upah Anda kekal. Musa tekun menjalani kehidupan yang penuh masalah “sebab pandangannya ia arahkan kepada upah” (Ibrani 11:26). Paulus tekun menanggung kesulitan dengan cara yang sama. Dia berkata,

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.” (2Korintus 4:17)

Jangan menyerah pada pemikiran jangka pendek. Tetaplah fokus pada hasil akhirnya:

“… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. … penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:17-18)

2.      Bersukacitalah dan mengucap syukur
Alkitab menyuruh kita untuk

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1Tesalonika 5:18)

Bagaimana mungkin? Perhatikan bahwa Allah menyuruh kita untuk mengucap syukur “dalam segala hal” bukan “atas segala hal.” Allah tidak meminta Anda bersyukur atas kejahatan, atas dosa, atas penderitaan, atau atas akibat-akibat menyakitkan dari hal-hal tersebut di dalam dunia. Sebaliknya, Allah ingin Anda mengucap syukur pada-Nya karena Dia akan memakai masalah-masalah Anda untuk menggenapi tujuan-Nya.

Alkitab mengatakan,

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” (Filipi 4:4)

Alkitab tidak mengatakan, “Bersukacitalah atas penderitaanmu.” Itu merupakan masokisme (kepuasan yang diperoleh dari penderitaan). Anda bisa bersukacita “dalam Tuhan”. Tanpa peduli apapun yang terjadi, Anda bisa bersukacita di dalam kasih, perhatian, hikmat, kuasa, dan kesetiaan Allah. Yesus berkata,

“Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga;” (Lukas 6:23)

Kita juga bisa bersukacita karena mengetahui bahwa Allah melewati penderitaan itu bersama kita. Kita bukan melayani Allah yang jauh dan acuh tak acuh, yang mengucapkan kata-kata klise yang membesarkan hati hanya dari pinggir lapangan yang aman. Sebaliknya, Allah masuk ke dalam penderitaan kita. Yesus melakukannya di dalam perwujudan-Nya, dan Roh-Nya melakukannya di dalam kita sekarang. Allah tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri.

3.      Menolak untuk menyerah
Bersabar dan bertekunlah. Alkitab mengatakan, “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:3-4)

Pembentukan karakter merupakan proses yang lambat. Kapan pun kita berupaya menghindari atau melarikan diri dari kesulitan di dalam kehidupan, kita memotong proses tersebut, menunda pertumbuhan kita, dan akan berakhir dengan jenis penderitaan yang lebih parah — jenis penderitaan yang menyertai tindakan menolak dan menghindar. Bila Anda memahami konsekuensi-konsekuensi kekal dari pengembangan karakter Anda, maka Anda akan lebih jarang menaikkan doa-doa “Memuaskan diri” (“Tolong Tuhan supaya aku merasa nyaman”). Anda akan lebih banyak menaikkan doa-doa “Bentuklah aku” (“Pakailah peristiwa ini untuk menjadikanku lebih serupa dengan Engkau”).

Anda mengetahui bahwa Anda sedang menjadi dewasa bila Anda mulai melihat tangan Allah di dalam lingkungan kehidupan yang acak, membingungkan, dan sepertinya tanpa arti.

Jika Anda sedang menghadapi penderitaan sekarang, jangan bertanya, “Mengapa aku mengalami penderitaan ini?” Tetapi bertanyalah, “Apa yang Engkau ingin agar aku pelajari?” kemudian percayalah kepada Allah dan tetap melakukan apa yang benar.

“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36)

Jangan menyerah, bertumbuhlah!

 

Posted by ruly in 06:54:06 | Permalink | Comments (4)

Wednesday, February 4, 2009

senyum

Ams. 15:13

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.

Ams. 17:22

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. 

alasan mengapa harus tetap senyum, dapat dr mana lupa, yg penting senyuuum

1. Senyum membuat Anda lebih menarik.

Orang yg byk tersenyum memiliki daya tarik. Orang yg suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yg selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman.. Dipastikan orang yg byk tersenyum memiliki byk teman.

2. Senyum mengubah perasaan

Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah..

3. Senyum menular

Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang.

Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia

4. Senyum menghilangkan stres

Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih. Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.

5. Senyum meningkatkan imunitas.

Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.

6. Senyum menurunkan tekanan darah

Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.

7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin

Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yg bisa mengendalikan rasa sakit.

8. Senyum membuat awet muda

Senyuman menggerakkan banyak otot . Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift. Dijamin dengan byk tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.

9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses

Orang yg tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien.

Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.

10. Senyum membuat orang berpikir positif.

Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah.

Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal “hidup adalah baik”. Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah.

Posted by ruly in 09:52:10 | Permalink | Comments (4)

how fragile

If blood will flow when fresh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrows rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetimes argument
That nothing comes from violence and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are how fragile we are
How fragile we are how fragile we are

sting lyric Fragile

Posted by ruly in 07:59:00 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, December 3, 2008

Ya Tuhan, Datanglah!

Keterangan foto: altar gereja HKBP Serpong
Desain bunga: Sandra Sitompul

Kita telah memasuki Masa-masa Adven:
mari menyatukan hati
dengan semua yang sedang menanti-nantikan Tuhan:
menanti-nantikan jawaban doanya,
menanti-nantikan kesembuhannya,
menanti-nantikan kehadiran anak buah cintanya,
menanti-nantikan bertemu dengan pasangan hidupnya,
menanti-nantikan pemulihan rumah tangganya,
menanti-nantikan panen dan buah hasil usahanya…….

Ya mari kita berdoa dalam keheningan,
dengan semua yang merintih dan menangis
dan berjuang agar tidak kehilangan pengharapan……

Marilah kita berdoa: Ya Tuhan, datanglah!

aku tempelkan disini, disana, disana juga..

Posted by ruly in 03:46:48 | Permalink | Comments (4)

Wednesday, November 26, 2008

Semua boleh gagal, tetapi Tuhan tidak pernah.

e-Konsel edisi 172 (17-11-2008)
Melawan Keputusasaan
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
EDISI 172/
15 November 2008

Daftar Isi:
  = Pengantar: Berkubang dalam Keputusasaan
  = Renungan: Jangan Menyerah!
  = Cakrawala: Terjatuh dan Tak Bisa Bangkit Lagi
  = TELAGA: Melawan Keputusasaan
  = Bimbingan Alkitab: Ketika Tiada Berpengharapan
  = Info: Wajah Baru Situs Telaga

PENGANTAR 

   Salam dalam kasih Kristus,

  Apakah Pembaca pernah merasa putus asa? Apa yang menyebabkannya?
  Penyebab keputusasaan yang paling umum adalah masalah yang
  bertumpuk-tumpuk yang tidak bisa segera diselesaikan, dan harapan
  yang tidak segera terwujud. Rasa putus asa mudah membuat kita
  menyerah pada keadaan atau masalah yang kita hadapi. Dan bila kita
  sudah mulai menyerah, maka yang biasanya kita lakukan adalah
  meratapi masalah atau keadaan, bukan mencari cara bagaimana
  menyelesaikan masalah dan keluar dari rasa putus asa itu.

  Apakah orang Kristen boleh putus asa? Sebagai orang Kristen, ada
  waktu-waktu tertentu di mana kita dapat mengalami keputusasaan.
  Namun kita harus mengingat dan terus menyadari bahwa Tuhan tidak
  akan membiarkan kita terus berkubang di dalamnya. Tuhan memberi kita
  kekuatan dan janji-janji bahwa kita akan bisa melalui masa-masa
  sulit itu. Apakah saat ini Pembaca sedang putus asa? Kiranya edisi
  ini bisa menjadi alat untuk menolong Pembaca keluar dari kubangan
  rasa putus asa dan mulai memandang ke depan bersama Tuhan.

  Selamat membaca!

  Pimpinan Redaksi e-Konsel,
  Christiana Ratri Yuliani

RENUNGAN  

  JANGAN MENYERAH!

  Bacaan: Galatia 6:6-10
  Ayat:
Galatia 6:9

  Ketika Hitler melancarkan serangannya melawan Inggris selama
  berlangsungnya Perang Dunia II, Winston Churchill diminta untuk
  berbicara kepada para pasukan London yang patah semangat. Di situ,
  ia hanya mengemukakan enam kata pemberi semangat: “Jangan pernah
  menyerah! Jangan sekali-kali menyerah!”

  Ada masa-masa ketika Anda akan merasa tidak bersemangat dalam
  perjalanan hidup kristiani Anda, tetapi jangan pernah menyerah. Jika
  Anda tak lagi punya pilihan, perjuangan Anda melawan dosa akan
  membawa Anda kembali dan kembali lagi kepada Allah dan mendekatkan
  diri pada-Nya dalam keputusasaan Anda.

  Dalam bukunya, “The Fight” (Pertarungan), John White menulis, “Orang
  yang bangun dan berjuang lagi adalah prajurit sejati …. Kuatkanlah
  diri Anda dengan mereguk anggur sumber kekuatan dari Roma 8:1-4.
  Lalu kembalilah bertarung sebelum otot-otot Anda menjadi kaku!”

  Apa yang diperlukan adalah ketahanan diri yang tak kenal lelah,
  ketaatan yang terus-menerus melalui pasang dan surut, naik dan
  turun, serta kemenangan dan kekalahan dalam hidup. Kemudian kita
  mesti mencoba lagi, dengan mengetahui bahwa Allah bekerja di dalam
  kita untuk memenuhi tujuan-Nya (Filipi 1:6; 2:13). Janganlah
  berhenti mencari kehendak Allah bagi hidup Anda sampai Anda berdiri
  di hadapan-Nya dan sampai pekerjaan Anda terselesaikan.

  Allah juga secara ajaib bekerja dengan tekun. Ia tidak pernah
  menyerah terhadap Anda! (DHR)

                KETEKUNAN DAPAT MEMBALIK SKALA DARI
                   KEGAGALAN MENJADI KEBERHASILAN

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama publikasi: e-Renungan Harian
  Edisi: Rabu, 28 November 2001
  Alamat URL: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2001/11/28

CAKRAWALA

                   TERJATUH DAN TAK BISA BANGKIT LAGI

  Kita semua pernah terjatuh sesekali, bukan hanya secara fisik, tapi
  juga secara emosional. Dan membangkitkan diri kita kembali lebih
  mudah diucapkan daripada dilakukan. Kita tidak membutuhkan bakat
  khusus untuk menyerah atau berbaring di tengah jalan kehidupan dan
  berkata, “Aku berhenti!” Faktanya, jalan menuju keputusasaan dan
  kekecewaan yang kronis berawal dari sebuah hari yang normal yang
  berakhir dengan timbunan kekecewaan-kekecewaan kecil. Kekecewaan
  mempunyai definisi: “gagal untuk memenuhi atau memuaskan harapan dan
  keinginan”. Dengan kata lain, ketika kita menentukan diri kita untuk
  berharap akan sesuatu dan harapan itu tidak terpenuhi, kita menjadi
  kecewa. Kita merasa tertipu atau dikhianati.

  Marilah kita hadapi kenyataan, tidak ada seorang pun dari antara
  kita yang akan pernah sampai ke tempat di mana kita tidak pernah
 lagi mengalami kekecewaan. Kita tidak bisa berharap untuk terlindung
  atau kebal dari setiap hal kecil. Kekecewaan adalah salah satu fakta
  dari kehidupan yang harus dihadapi oleh semua orang. Sering kali,
  banyak orang membiarkan kekecewaan mereka terus menumpuk dan
  akhirnya menjadi terpuruk tanpa mengerti apa penyebabnya. Mereka
  kelihatannya tampak baik-baik saja, tapi sekarang mereka jatuh
  terbaring di jalan kehidupan tanpa tahu bagaimana terjadinya dan apa
  sebabnya. Banyak orang tidak menyadari bahwa masalah besar yang
  menghancurkan mereka ini dimulai sudah lama sebelumnya dengan
  beberapa kekecewaan kecil yang gagal mereka selesaikan.

  Rasa sakit yang mendalam tidak datang begitu saja dari kekecewaan
  yang besar, seperti ketika kita gagal mendapatkan pekerjaan atau
  promosi yang kita inginkan. Rasa sakit emosional yang dalam bisa
  datang dari beberapa gangguan dan frustrasi kecil. Itulah mengapa
  kita perlu tahu bagaimana caranya mengatasi kekecewaan kecil
  sehari-hari dan memunyai perspektif yang benar terhadap semua itu.
  Jika tidak, mereka dapat menjadi tidak terkendali dan meledak
  melebihi batasan.

  Contohnya, bayangkan Anda memulai hari Anda dengan rencana dan
  jadwal di kepala Anda, dan Anda sudah cukup frustrasi dengan itu.
  Dalam perjalanan Anda ke kantor, jalanan yang macet membuat Anda
  terlambat. Lalu, ketika Anda akhirnya mulai bekerja, Anda mendengar
  seseorang di kantor menyebarkan gosip tentang Anda. Anda membuat
  kopi untuk menenangkan diri Anda, tapi kopinya tak sengaja tertumpah
  di baju Anda, yang hanya membuat masalahnya semakin rumit karena
  Anda akan menghadiri pertemuan (meeting) dengan atasan, dan Anda
  tidak punya waktu untuk berganti pakaian!

  Menghadapi hal-hal itu satu persatu secara terpisah memang terasa
  mengganggu, tapi ketika mereka semakin menumpuk, itu akan menjadi
  tak tertahankan. Lalu, dalam waktu yang hampir bersamaan, Anda
  mendapat laporan dari dokter tentang sesuatu hal yang tidak Anda
  harapkan. Dan puncaknya, tunangan Anda menelepon, mengancam untuk
  membatalkan pernikahan Anda dengannya walaupun semua undangan telah
  dikirim! Bagaimana Anda akan menanggapinya? Apakah Anda akan tetap
  beriman, atau menemukan diri Anda penuh ketakutan dan sedang
  mengarah menuju kekecewaan dan keputusasaan? Semua kekecewaan dan
  frustrasi kecil terhadap kemacetan, gosip di kantor, dan kopi yang
  tertumpah, telah menjadi sebuah bencana. Dan ketika Anda menghadapi
  beberapa masalah serius, seperti penyakit atau hubungan yang gagal,
  Anda menemukan diri Anda tidak siap untuk menghadapi semua itu.
  Jadi, Anda terjatuh menuju ketiadaan pengharapan dan keputusasaan.

  Apa yang Anda lakukan saat kekecewaan datang? Saat kekecewaan
  memberatkan Anda seperti sebuah batu besar, Anda bisa membiarkannya
  menekan Anda sampai Anda merasa patah semangat, bahkan menjadi
  benar-benar menyerah, atau Anda bisa menggunakannya sebagai batu
  loncatan kepada hal-hal yang lebih baik. Belajarlah untuk
  beradaptasi dan menyesuaikan diri. Anda bisa melakukannya! Hadapi
  kekecewaan dan cepatlah membuat penyesuaian yang dibutuhkan untuk
  menangani situasi itu. Tuhan memunyai hal-hal yang lebih baik untuk
  Anda, dan Dia akan menolong Anda. Dia mengatakan dalam Ibrani 13:5,
  “… Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku
  sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

  Daripada berkonsentrasi pada semua masalah Anda dan menjadi putus
  asa, arahkan fokus Anda kepada Tuhan dan renungkan janji-janji-Nya
  kepada Anda. Anda mungkin telah terjatuh, tapi Anda tidak harus
  tetap tergeletak. Tuhan selalu siap, mau, dan mampu untuk mengangkat
  Anda kembali. Bangkitlah, walaupun itu berarti Anda membutuhkan
  waktu dan proses.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama situs: Jawaban.com
  Penulis: Joyce Meyer
  Penerjemah: Tidak disebutkan
  Alamat URL: http://jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=080828190021

TELAGA _______________________________________________________________

                          MELAWAN KEPUTUSASAAN

  Rasa putus asa tidak datang pada diri seseorang tanpa sebab. Ada
  beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang menjadi putus asa dan
  seolah-olah tidak berdaya lagi melanjutkan hari-harinya. Berikut
  ringkasan perbincangan dengan Pdt. Paul Gunadi mengenai putus asa
  dan bagaimana mengatasinya. Selamat menyimak.

  T: Sebenarnya keputusasaan itu apa?

  J: Keputusasaan adalah lenyapnya pengharapan akan terjadinya sesuatu
     yang kita dambakan. Sebetulnya kita pernah mengalami
     keputusasaan, tapi mungkin yang membedakan adalah derajatnya atau
     berapa parahnya. Kita pernah kehilangan pengharapan akan
     terjadinya sesuatu yang sudah kita rindukan, yang kita pikirkan
     akan kita peroleh, tetapi akhirnya kita tidak bisa menikmati.
     Lalu lenyaplah pengharapan, itulah yang menimbulkan keputusasaan.

  T: Kalau dikatakan lenyap, itu berarti sudah tidak bisa diharapkan
     lagi?

  J: Betul, jadi selama masih ada pengharapan, tidak ada keputusasaan.
     Keputusasaan hanyalah muncul tatkala kita sudah benar-benar
     merasakan ini final, tidak ada lagi yang bisa kita harapkan, yang
     kita dambakan itu tidak mungkin lagi datang kepada kita.

  T: Kalau begitu, bagaimana bisa tahu bahwa kita sedang berputus asa?

  J: Ada beberapa cirinya, yang pertama adalah kita merasakan
     kesedihan yang dalam. Keputusasaan sebetulnya adalah rasa
     kehilangan. Saat pengharapan lenyap, apa yang kita dambakan tidak
     bisa menjadi kenyataan, sebetulnya yang terjadi adalah kita
     memasuki proses kehilangan. Proses kehilangan melahirkan reaksi
     dukacita, reaksi dukacita adalah reaksi kesedihan atas hilangnya
     sesuatu atau seseorang yang sangat bermakna bagi kita. Jadi, ciri
     pertama biasanya adalah kita mengalami kesedihan yang dalam.

  T: Selain hal itu, apa tanda lainnya?

  J: Rasa kecewa. Rasa kecewa muncul tatkala pengharapan tidak bisa
     kita realisasikan, yang kita nantikan tak mungkin kembali lagi.
     Waktu terjadi keputusasaan, yang muncul adalah kemurungan dan
     juga kekecewaan yang dalam karena yang dinantikan tidak menjadi
     kenyataan, dampaknya sangat tragis. Keputusasaan itu melahirkan
     ciri atau gejala yang bisa diamati, salah satunya adalah rasa
     kecewa yang dalam.

  T: Selain kekecewaan dan kesedihan, apakah ada ciri yang lain?

  J: Rasa apatis, rasa tidak peduli lagi. Orang yang putus asa     
     cenderung bersikap masa bodoh. Mereka tidak lagi memunyai
     pengharapan pada orang di sekitar mereka, mereka sudah memvonis
     bahwa tidak ada yang bisa dikerjakan atau dilakukan oleh orang
     lain. Jadi, mereka hanya bisa pasrah menerima nasib mereka, salah
     satu respons yang biasanya muncul adalah rasa tidak peduli,
     apatis sekali. Itu sebabnya kalau kita ingin menolong orang yang
     sedang berada dalam kondisi putus asa itu tidak mudah, karena
     pertama-tama kita harus membangkitkan kembali motivasi yang
     sudah terhilang. Mereka sudah tidak lagi mau peduli pada apa pun
     yang kita katakan dan jalan apa pun yang kita tawarkan sebab
     mereka sudah putus asa.

  T: Itu berbeda dengan orang yang tidak peduli?

  J: Ada bedanya, ada orang-orang yang memang memunyai bawaan sikap
     tidak peduli dengan orang, hanya mengurus dirinya sendiri, tapi
     tidak putus asa. Orang-orang seperti ini hanyalah orang yang
     memang mungkin sangat privat sekali, tidak mau mengganggu orang
     dan tidak suka diganggu orang, jadi akhirnya rasa kepedulian
     terhadap sesama juga berkurang. Kalau ini tidak, bisa jadi orang
     yang tadinya sangat memedulikan sesamanya, mau membantu orang
     lain, akhirnya saat keputusasaan menimpanya ,dia tidak lagi
     memunyai keinginan tersebut.

  T: Ciri lain selain rasa sedih, kecewa, dan apatis?

  J: Yang lainnya lagi adalah rasa ingin mengakhiri hidup. Jadi,
     lenyapnya pengharapan yang kita dambakan (apalagi yang
     didambakan itu bermakna buat kita) biasanya akan membuat kita
     berpikir buat apa hidup. Kita akan kehilangan makna hidup atau
     tujuan hidup. Ini bisa saya kaitkan dengan seseorang yang
     misalkan kehilangan suami atau istri atau anak atau orang tua
     yang sangat dikasihi. Yang terberat adalah tatkala kita berpikir
     bahwa sepeninggalnya orang tersebut, tidak akan ada orang lain
     yang bisa menggantikannya, tidak akan ada lagi yang bisa
     menduduki posisi itu. Misalnya, kita terbiasa hidup dengan
     pasangan kita tahun demi tahun dan sekarang sudah berlangsung
     selama 30 tahun, lalu kita harus kehilangan dia. Yang sangat
     memukul sebetulnya bukan kehilangan itu sendiri, tapi pemikiran
     bahwa setelah dia pergi, tidak akan ada lagi seseorang di samping
     yang bisa menemani, mencintai dan dicintai, bercengkerama.
     Kehilangan pengharapan akan adanya “moment-moment” yang spesial
     seperti itulah yang bisa membuat kita akhirnya putus asa.

  T: Rasa ingin mengakhiri hidup itu sungguh-sungguh mau mengakhiri
     hidup atau cuma sekadar luapan emosinya saja?

  J: Pada awalnya, semuanya memang bersumber dari luapan emosi, tapi
     riset memerlihatkan orang yang bunuh diri adalah orang yang
     pernah mencoba bunuh diri. Artinya, orang yang berhasil mati
     karena bunuh diri adalah orang yang sebelumnya pernah mencoba,
     bisa sekali atau berkali-kali, tapi tidak berhasil. Misalkan
     makan atau menelan pil, tapi keburu diselamatkan atau hal-hal
     yang lainnya. Berikutnya, orang yang pernah mencoba bunuh diri
     adalah orang yang pernah berkata-kata bahwa dia akan bunuh diri
     meskipun belum ada tindakannya. Terakhir, orang yang pernah
     berkata ingin bunuh diri adalah orang yang awalnya berpikir
     tentang kematian dan mau mati. Jadi, kaitannya atau urutannya
     seperti itu.

  T: Tadi sudah ada empat ciri, apakah mungkin itu merupakan suatu
     campuran dari keempatnya, atau dari ketiganya, atau berdiri
     sendiri-sendiri, atau bagaimana?

  J: Biasanya keempatnya memang ada, tapi kita bisa membedakan dari
     sudut derajatnya, seberapa besar kecilnya. Sudah tentu rasa ingin
     mengakhiri hidup itu adalah puncak segalanya. Kalau sudah ada
     rasa murung, kecewa, dan tidak peduli yang dalam, biasanya
     langkah terakhir atau respons terakhir adalah buat apa hidup.

  T: Perasaan-perasaan itu muncul pasti ada penyebab atau sumbernya,
     apa yang menyebabkannya?

  J: Salah satu penyebab keputusasaan yang paling umum adalah
     penderitaan yang tak kunjung berakhir. Tapi kalau kita menderita,
     sebetulnya tanpa disadari kita memberikan jadwal atau
     memberikan batas waktu, seolah-olah kita ini memunyai jam dalam
     hati kita atau jiwa kita kapan seharusnya penderitaan itu
     berakhir. Sewaktu penderitaan itu tak kunjung berakhir, meskipun
     sudah jatuh tempo menurut penanggalan jiwa kita, reaksi yang
     muncul adalah keputusasaan.

  T: Tetapi sebenarnya apakah jadwal itu bisa mundur?

  J: Ada orang-orang yang berhasil melewati tanpa putus asa, yaitu
     orang-orang yang berhasil menarik jadwal itu atau batas temponya
     dan dia akan berkata, “Memang ini porsi hidupku”, dan dia akan
     lewati hari lepas hari. Orang yang tidak berhasil mengundurkan
     batas temponya itulah orang yang akan akhirnya melewati
     keputusasaan.

  T: Apa penyebab yang lain?
 
  J: Yang lainnya adalah penantian akan yang lebih baik ternyata tidak
     terwujud. Jadi, saat kita akhirnya sadar bahwa yang kita dambakan
     itu lenyap, biasanya ada satu harapan tersirat, yaitu mungkin
     akan mendapatkan yang lainnya. Sesuatu yang tidak seideal yang
     kita dambakan, tapi satu tingkat di bawahnya. Karena secara
     alamiah kita berpikir atau memunyai pengharapan seperti itu, maka
     kita akan menginvestasikan penantian kita. Saat yang kita
     nantikan itu tidak terwujud, kita putus asa sebab yang ideal
     tidak kita dapatkan. Yang di bawah ideal yang kita juga harapkan
     itu pun tidak datang, akhirnya kita terpaksa memakan yang paling
     buruk, menelan yang paling pahit; itu yang sering kali memukul
     kita.

  T: Apakah ada contoh konkret di dalam Alkitab sehubungan dengan
     keputusasaan?

  J: Di Mazmur 10, sekaligus kita melihat jawaban-jawaban dari firman
     Tuhan. Mazmur 10:1, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh ya Tuhan,
     dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan.” Teriakan
     mengapa Tuhan menyembunyikan diri, bahasa yang sangat kuat sekali
     seolah-olah Tuhan memang tidak mau menolong. Ayat ke-12 disambung
     lagi: “Bangkitlah Tuhan ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah
     lupakan orang-orang yang tertindas.” Jadi, dalam keadaan sesak,
     tertekan, dan putus asa, kita cenderung menuduh Tuhan seolah-olah
     sengaja bersembunyi dan sengaja tidak mau menolong kita yang
     tertindas, itu kondisi kita dalam keadaan putus asa. Tapi
     pemazmur tidak berhenti di situ, dia melanjutkan di Mazmur 10:14,
     “Engkau memang melihatnya sebab Engkaulah yang melihat kesusahan
     dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu
     sendiri. Kepada-Mu-lah orang lemah menyerahkan diri, untuk anak
     yatim Engkau menjadi penolong.” Jadi langsung pemazmur menjawab,
     Tuhan melihat penderitaan manusia, pemazmur tidak berhenti pada
     teriakan, tidak berhenti mengapa Tuhan bersembunyi, tapi dia
     langsung berkata Tuhan melihat, ini adalah pernyataan imannya dan
     ditutup dengan Mazmur 10:17 yang berkata: “Keinginan orang-orang
     tertindas telah Kau dengarkan ya Tuhan, Engkau menguatkan hati
     mereka, Engkau memasang telinga-Mu untuk memberi keadilan kepada
     anak yatim dan orang yang terinjak, supaya tidak ada lagi seorang
     manusia di bumi yang berani menakut-nakuti.” Terakhir, pemazmur
     berkata: “Tuhan bertindak”. Jadi, di masa keputusasaan, hati
     harus diimbangi dengan kepala, itu nasihatnya. Artinya, meskipun
     hati berteriak, mengeluh, meraung-raung, jangan sampai kepala
     tidak bersuara. Kepala adalah ingatan akan firman Tuhan, ingatan
     akan siapa Tuhan. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang kejam,
     yang jahat, yang senang melihat anak-anak-Nya kesusahan dan
     menderita. Kalau Dia Tuhan yang jahat, Dia tidak akan mati di
     kayu salib untuk dosa kita. Jadi, bukti bahwa Tuhan mengasihi
     kita dan Tuhan adalah Tuhan yang baik adalah bukti sejarah, Dia
     telah mati untuk dosa kita, jangan sampai kesusahan hidup kita
     akhirnya menutupi fakta yang sudah sangat jelas itu.

  T: Tapi biasanya hal-hal seperti itu tidak teringat lagi oleh
     seseorang yang sedang putus asa. Perasaannya menutupi pikirannya,
     itu bagaimana?

  J: Sering kali demikian, maka pada awalnya, sewaktu kita sudah mulai
     merasakan keputusasaan, kita harus langsung melawannya dengan
     firman Tuhan, dengan berdoa mengingatkan lagi bahwa Tuhan tidak
     seperti yang kita rasakan. Biarkan pikiran kitalah yang memandu
     langkah hidup kita, bukan perasaan kita lagi. Langkah yang
     lainnya lagi, yang praktis dan yang bisa kita lakukan, adalah
     bersekutu dengan sesama kita, cari orang lain, bicara dengan
     orang lain, dan izinkan orang untuk menguatkan kita.

  Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T101B
  yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
  Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
  e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org>
  atau < TELAGA(at)sabda.org >. Atau kunjungi situs TELAGA di:
  ==> http://www.telaga.org/transkrip.php?melawan_keputusasaan.htm

BIMBINGAN ALKITAB ____________________________________________________

                     KETIKA TIADA BERPENGHARAPAN

  Pengharapan adalah satu dari nilai yang utama dalam iman
  kekristenan. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini …,” kata Rasul
  Paulus dalam 1 Korintus 13:13: “Iman, pengharapan, dan kasih.” Dalam
  Perjanjian Baru, kata pengharapanlah yang paling banyak digunakan.
  Hal ini sangatlah menyedihkan karena sesuatu yang nyata dalam firman
  Tuhan hilang dalam kehidupan manusia.

  Kita harus dapat membedakan antara “pengharapan” yang digunakan
  dalam Alkitab dan pengharapan yang digunakan dalam percakapan
  sehari-hari. Sering kali, kita mendengar orang berkata, “Kuharap
  segala sesuatu akan membaik,” atau “Aku mengharapkan kenaikan gaji,”
  tetapi Alkitab tidak memberikan jaminan apa pun atas hal-hal yang
  kita “harapkan”. Ketika Alkitab berkata tentang “pengharapan”, hal
  itu berarti Alkitab membicarakan suatu kepastian sebagai seorang
  Kristen bahwa rencana Tuhan tidak pernah gagal dan bahwa semua
  janji-janji-Nya akan dinyatakan. Dengan berpegang pada fakta-fakta
  tersebut, kita mampu untuk menghadapi dan menangani segala keadaan
  kehidupan kita di mana harapan dan ambisi dunia kita hancur.

  Sesuatu yang memberikan seorang Kristen seperti penulis Kitab Ibrani
  katakan: “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa
  kita” (Ibrani 6:19), adalah kenyataan bahwa Tuhan memerintah. Apakah
  Anda menyadari bahwa dalam firman Tuhan, ketika hamba-hamba Tuhan
  berada dalam kesulitan, mereka diberikan penglihatan akan takhta
  yang kekal? Yesaya, Daud, Yehezkiel, dan Rasul Yohanes. Mengapa
  sebuah takhta? Karena Tuhan memerintah dari takhta-Nya, dan walaupun
  keadaan terlihat sebaliknya, Ia selalu memegang kendali. Pengharapan
  (atau kepastian) bahwa rencana Allah akan terus berjalan dalam
  kehidupan kita walaupun rencana kita gagal, berlaku bagai sebuah
  sauh bagi jiwa. Itu yang tidak boleh kita lupakan.

  “Bapa yang kudus dan penuh kasih, biarkan pengharapan yang `pasti
  dan setia` membuatku aman dan yakin, khususnya ketika pengharapan
  kami tidak terjadi. Semuanya berjalan sesuai kehendak-Mu. Biarlah
  aku senantiasa bersukacita di dalamnya.”

 
  Referensi Alkitab

  1. Hal pertama yang harus dilakukan ketika sedang berada dalam
     kesulitan.
     1 Timotius 2:8, “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana
     orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa
     marah dan tanpa perselisihan.”
 
  2. Mengerti maksud yang tersembunyi di balik pencobaan.
     Yakobus 1:2-4, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu
     kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai
     pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu
     menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memeroleh
     buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak
     kekurangan suatu apapun.”

  3. Melekat erat dengan Allah.
     Mazmur 57:2, “Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab
     kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan
     berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.”

  4. Tuhan selalu memampukan kita.
     Mazmur 34:18, “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka
     TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.”

  5. Mengapa kita tidak boleh hilang kepercayaan kepada Allah.
     Mazmur 71:20, “Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak
     kesusahan dan malapetaka, Engkau akan menghidupkan aku kembali,
     dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali.”

  6. Ingatkan diri Anda akan pembebasan ilahi yang pernah terjadi.
     Mazmur 77:12-13, “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN,
     ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman
     purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan
     merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.”

  7. Janji yang takkan pernah ingkar.
     Mazmur 34:19, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah
     hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

  8. Semua boleh gagal, tetapi Tuhan tidak pernah.
     Mazmur 46:2-3, “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan
     kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab
     itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun
     gunung-gunung goncang di dalam laut.”

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Buku Pintar Konseling Krisis
  Penulis: Selwyn Hughes
  Penerjemah: Genesis Team
  Penerbit: PT. Bethlehem Publisher, 2002
  Halaman: 52 — 55

Posted by ruly in 03:49:59 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, November 19, 2008

kilat

FYI

Baru sebulan berkenalan, langsung memutuskan menikah. Mungkinkah? Lalu, dapatkah cinta kilat bertahan lama? Setiap orang pasti punya pandangan berbeda-beda mengenai hal ini.

Sudah pasti, jatuh cinta secepat kilat dapat sangat menyenangkan tetapi juga dapat menakutkan. Anda bingung, haruskah diteruskan, merayakannya karena merasa sudah menemukan tambatan hidup, atau justru mengerem perasaan dan hubungan karena takut akan patah hati? Nah, agar tak terlanjur patah hati dan merasa sakit berkepanjang, ada sejumlah saran yang bisa jadi Anda perlukan.

* Bebas berpendapat

Orang yang menghabiskan waktunya menganalisa apa yang terjadi dan memilih jalan aman, pasti bukan tipe romantis. Walaupun demikian, ada perbedaan besar antara cinta kilat dan perasaan tak terkendali. Jadi, tanyakan diri Anda, bila kekasih baru meminta Anda untuk melakukan sesuatu yang tidak Anda sukai, misalnya pergi ke kelab malam yang menyeramkan pada kencan kedua, apakah Anda bisa menyatakan keberatan tanpa merusak suasana?

Bila Anda merasa harus melakukan sikap tertentu kepadanya, maka hal ini merupakan tanda Anda merasa tidak nyaman dengan orang tersebut. Intinya adalah hubungan jangka panjang memerlukan masukan-masukan, baik yang baik dan buruk, serta lebih kepada bagaimana melakukannya nanti.

* Menunda tanpa menyakiti

Bila merasa segala sesuatu terlalu cepat terjadi, Anda berhak untuk mengatakan “Tidak” pada hubungan tersebut. Bagaimanapun, hindari kata-kata, “Saya rasa tidak perlu terburu-buru” atau “Saya memerlukan ruang.” Kalimat-kalimat klise ini hanya akan memunculkan tanda bahaya dan membuat kekasih berpikir Anda sedang mencoba mundur.

Sebaliknya, ucapan Anda harus lebih jelas seperti, “Saya senang ketemu kamu akhir minggu ini tetapi teman saya sedang ada masalah, jadi saya perlu menemaninya,” atau “Saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Saya dikejar tenggat, sebaiknya saya selesaikan pekerjaan saya dulu dan minggu depan kalau semuanya beres kita habiskan waktu bersama dengan suasana yang lebih santai.”

Bila teman kencan tidak dapat menerima alasan yang Anda berikan, hilangkan kekhawatirannya dengan mengatakan, tidak terlalu sering bertemu merupakan cara untuk menjaga suatu hubungan yang sehat, suatu hubungan untuk jangka panjag.

* Tahu batas

Sebelum memutar nomor teleponnya untuk kelima kalinya dalam satu hari hanya untuk mengatakan apa yang Anda rasakan untuk yang kelima kalinya pada hari yang sama, pikirkan kembali! Tidak berarti setiap dorongan hati harus selalu direalisir. Orang dapat salah menafsirkan. Jangan menganggap orang lain mempunyai perasaan dan penafsiran yang sama dengan Anda. Sebaiknya duduk tenang dan nikmati ketenangan Anda.

Hal ini pun berlaku pada email dan SMS. Jadi, sebelum mengirim pesan atau memencet tombol telepon, tanyakan pada diri sendiri, apakah dengan mengatakan apa yang Anda rasakan akan membuat Anda nyaman? Bila tidak, lebih baik tahan dan simpan untuk nanti.

* Tunda membicarakan masa depan

Membahas mimpi masa depan dengan kekasih baru Anda tampaknya romantis. Namun menceritakannya terlalu sering dapat berarti lampu merah. Soalnya, semua itu menunjukkan bahwa pikiran Anda lebih cenderung pada hubungan tersebut dan bukan pada orang yang berada di depan Anda. Bila topik pembicaraan Anda cenderung untuk ke arah itu, sebaiknya cari tempat, waktu, dan suasana yang tepat seperti berjalan kaki di taman yang sepi, yang membuat dia mau tidak mau memusatkan perhatiannya kepada apa yang Anda katakan.

* Tunda bilang “Aku cinta padamu”

Bila Anda berada pada suatu hubungan yang dirasa sudah pas, pasti Anda akan sangat tergoda untuk mengutarakan ketiga kata tersebut di awal hubungan. Pada saat merasa ingin mengatakannya, hitung sampai sepuluh, lalu pulang, dan katakan ketiga kata tersebut pada kucing kesayangan dii rumah.

Bisa jadi, perasaan Anda tadi diakibatkan oleh suasana romantis yang baru saja Anda lewati bersamanya. Risikonya, bisa saja anda bertepuk sebelah tangan. Jadi, sebelum melontarkan kalimat itu, tanyakan pada diri sendiri, dapatkah Anda menerima kenyataan bila teman kencan Anda tidak membalas dengan mengatakan, “Saya juga cinta kamu.” Bakal hancurkah hati Anda? Bila hati Anda hancur, sebaiknya tahan sampai beberapa waktu dan sampai Anda lebih yakin akan arah dan tujuan dari hubungan tersebut.

Sebaliknya, yaitu teman kencan Anda yang mengatakan “Saya cinta kamu,” tidak perlu membalasnya jika memang belum merasa perlu. Katakan dengan baik-baik, “Saya tersentuh dengan apa yang kamu ucapkan dan saya suka dengan kamu, tetapi saat ini sulit bagi saya untuk menggunakan kata-kata itu. Mungkin nanti, dengan berjalannya waktu.”

Jeremiah 17 ; 7

Blessed is the man that trusteth in the LORD, and whose hope the LORD is.

dr milist yg mungkin ngambil dr blog mana gitu…

Posted by ruly in 07:10:15 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, November 11, 2008

Tabur Benih Pagi-Pagi

e-RH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
 e-Renungan Harian     

Sarana untuk bertumbuh dalam iman & menjadi saksi Kristus ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Tanggal: Selasa, 11 November 2008
Bacaan : Pengkhotbah 11:1-6
Setahun: Kisah Para Rasul 1-4

Nats: Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi
      istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak
      mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau
      kedua-duanya sama baik (Pengkhotbah 11:6)

Judul:
                       TABUR BENIH PAGI-PAGI

Hidup ini penuh misteri-banyak hal tidak kita ketahui (ayat 5). Dan
justru karena hidup mengandung banyak misteri, Pengkhotbah mendorong
para pembaca tulisannya agar berani mengambil tindakan yang punya
banyak kemungkinan hasil. “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari dan
janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena
engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang  akan berhasil, atau
kedua-duanya sama baik” (ayat 6).

Pengkhotbah tidak meminta kita agar menjadi orang-orang yang gila
kerja. Ia hanya mengingatkan bahwa kita ini sungguh tidak tahu
apa-apa dan tak dapat memastikan hasil dari setiap pekerjaan yang
kita lakukan. Kita juga tak tahu bagaimana Allah akan berkarya.
Walaupun demikian, ketidaktahuan itu tak boleh membuat kita santai
saja lalu masuk ke “tempurung” masing-masing; tak bersemangat, tak
rajin, dan loyo menghadapi hidup. Sebaliknya, justru karena
“ketidaktahuan” itu, kita digugah untuk menjadi rajin-”menabur benih
pagi-pagi … janganlah memberi istirahat pada tanganmu”. Dan dengan
hati teguh (meskipun kita tidak tahu pasti tentang semua hal) serta
rendah hati (karena kita beriman pada Allah yang memahami segala
misteri) kita harus terus tekun berusaha.

Pengkhotbah mendorong kita untuk sungguh-sungguh berjuang dalam hidup
sekarang ini, dan tidak terjatuh dalam perangkap lamunan ataupun
penjara penyesalan yang hanya membuang waktu kita. Dan kita tidak
pernah berjuang sendiri, karena kita selalu ada dalam pengawasan dan
pemeliharaan Allah, Sang Jawaban dari semua ketidaktahuan kita -DKL

            APABILA ORANG BERIMAN TAK MAU BERJERIH LELAH
                  BAGAIMANA IMANNYA AKAN BERBUAH?

e-RH versi web:             http://www.glorianet.org/rh/112008/11.html
e-RH arsip web:        http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2008/11/11/
———————————————————————-
Ayat Alkitab:      http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Pengkhotbah+11:1-6

    Pengkhotbah 11:1-6

1. Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya
    kembali lama setelah itu.
2  Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan
    orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi
    di atas bumi.
3  Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu
    dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan
    atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal
    terletak.
4  Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan
    siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.
5  Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan
    tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung,
    demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang
    melakukan segala sesuatu.
6  Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi
    istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak
    mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau
    kedua-duanya sama baik.

Posted by ruly in 00:53:25 | Permalink | Comments (1) »

Monday, November 10, 2008

Amsal 3 : 5 – 6

Ketika menghitung beban (membandingkan koleksi masalah :p ), menyusunnya dalam kardus or kotak or tas yang kita pikul setiap hari baik secara sadar or tidak sadar sepanjang hidup ini, ada saat ketika kita melihat dan membandingkan dengan bawaan orang lain.  Coba lihat-lihat, acapkali dipikir-pikir, kalau bisa diintip, bandingkan but wait..

Kita tidak bisa menggunakan semua beban yang dipergunakan orang lain untuk diri sendiri, semua orang memiliki bebannya masing-masing bukan ?

Dan siapapun tak semestinya meletakkan beban pribadi di sisi beban temannya, menimbang-nimbang keduanya dan berkata ‘bebanku tak seberat bebanmu atau hei bebanku lebih besar, jadi bebanmu tak ada artinya..

I’m all right, asalkan kau tidak menjatuhkannya maka semua akan baik-baik saja..

Ada yang membawa beban dalam kemasan Massonite yang branded, terkunci rapat.. ada yang seperti aku mungkin, semua dikardusin, diikat.. kalau capek merepet hehehe.. ada yang lebih parah mungkin, di dalam karung gede.. sampai diseret-seret..

Sangatlah wajar bersedih atas kehilangan sesuatu, tak ada salahnya meratap karenanya, tetapi walaupun sedih kita harus berani untuk tetap bahagia, paling tidak untuk semua kenangan indah yang dapat diingat-ingat kembali. 

Kita tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang sementara masih banyak orang di dunia ini yang terombang-ambing, jungkir balik bahkan tidak menyadari apa yang hilang dalam hidup mereka namun merasakan kehilangan..

Eh lihat kembali ayat yang kemarin disms bang Tohap, Amsal 3 : 5 – 6 ;

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”

Posted by ruly in 05:13:48 | Permalink | Comments (2)

Tuesday, September 16, 2008

Kisah di musim dingin (true story)

Kisah mengharukan… saya tertegur…

Teman temin, sering kali kita terlalu cepat menghakimi atau menghukum orang lain tanpa tahu fakta sebenarnya, hanya karena tidak sesuai dengan persepsi atau rencana kita sehingga justru lebih sering lagi kita menyakiti orang-orang yang kita cintai.

Kita memang perlu terus belajar sebelum terlambat, salah satunya dari kisah di bawah ini:

Kisah di musim dingin (true story, seperti temuat dalam Xia Wen Pao, 2007) Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan. Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.


Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca *,”Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun.”*


Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.

Take time to THINK. It is the source of power

Take time to READ. It is the foundation of wisdom

Take time to be QUIET. It is the opportunity to seek God

Take time to DREAM. It is what the future is made of

Take time to PRAY. It is the greatest power on earth

 

Posted by ruly in 04:27:59 | Permalink | Comments (1) »

Wednesday, September 10, 2008

Memindahkan Gunung

Seorang pria sedang tidur di kamarnya pada waktu malam, ketika Tuhan menampakkan diri kepadanya. Tuhan berkata, “Adapekerjaan yang harus engkau kerjakan untukKu”. Sambil mengatakan itu, Tuhan memperlihatkan sebuah batu yang sangat besar di depan rumahnya. Tuhan mengatakan bahwa ia harus mendorong batu tersebut dengan segenap kekuatannya.
 
Dari hari ke hari, pria itu mendorong batu tersebut. Selama bertahun-tahun ia bekerja keras mendorong batu itu dari terbit matahari hingga terbenamnya. Setiap sore ia kembali ke kamarnya dengan tubuh lelah. Pundak, dada  dan tangannya terasa sakit, keringat bercucuran dan nafas tersengal-sengal. Ia merasa bahwa ia hanya menghabiskan hari-harinya dalam kesia-siaan. Mengetahui bahwa pria itu sudah memperlihatkan sinyal-sinyal keputusasaan, Setan memutuskan untuk merasuki pikirannya dengan mengatakan, “Engkau telah mendorong batu itu selama bertahun-tahun, tetapi tidak juga berpindah tempat. Engkau tidak perlu melakukan tindakan bunuh diri seperti ini, karena engkau tidak mungkin memindahkan batu itu. “Pria itu mulai terpengaruh, ia membenarkan perkataan Setan bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang tidak mungkin. “Mengapa aku harus melakukan hal bodoh seperti ini?” pikirnya
 
Suatu hari ia datang kepada Tuhan dalam doa. “Tuhan, aku telah bekerja keras untukMu, aku memakai segenap kekuatanku untuk melakukan apa yang Engkau perintahkan. Tetapi sampai saat ini aku belum bisa menggeser batu itu sedikitpun. Apa yang salah? Mengapa aku gagal? “Lalu Tuhan pun menjawabnya, “AnakKu, Aku memintamu untuk melayaniKu dan Engkau bersedia. Aku menyuruhmu mendorong batu itu dengan segenap kekuatan, dan engkau sudah melakukannya. Aku hanya menyuruhmu mendorongnya dan bukan memindahkannya. Sekarang engkau datang kepadaKu dengan tenaga yang sudah habis terkuras dan engkau berpikir bahwa engkau telah gagal. Tetapi, lihatlah dirimu. Lengan dan otot-ototmu menjadi kuat, pundakmu kokoh dan dadamupun menjadi lebih bidang. Engkau memang tidak dapat memindahkan batu itu, karena Aku memanggilmu untuk taat melakukan apa yang Aku mau, dan untuk membuktikan imanmu. Yang akan memindahkan batu itu adalah Aku sendiri”
 
Kita butuh hikmat dan kepekaan untuk mengerti apa maksud Tuhan ketika Ia menaruh beban di dalam hati kita, ketika ada sebuah tugas yang Ia perintahkan, atau dalam setiap kejadian. Kadang-kadang apa yang Tuhan inginkan begitu sederhana, tidak serumit apa yang kita pahami. Adakalanya Ia hanya mengharapkan kita untuk taat dan beriman kepadaNya. Memang kita perlu memiliki iman yang dapat memindahkan gunung, tetapi ingatlah bahwa bukan kita yang akan memindahkannya, melainkan Tuhan sendiri.
 
Tuhan Memberkati

Posted by ruly in 07:46:44 | Permalink | Comments (2)